Kritik serupa juga datang dari mantan pelatih Ajax, Henk ten Cate. Ten Cate menilai bahwa sebagai pemain yang relatif senior, Paes seharusnya lebih memahami situasi dan memilih kata-kata dengan lebih hati-hati.

Menurut Ten Cate, kritik terhadap rekan setim sebenarnya bukan hal yang salah. Namun cara penyampaiannya perlu dipertimbangkan, terutama ketika dilakukan sesaat setelah pertandingan yang emosional.

Ia menilai bahwa persoalan seperti itu seharusnya dibicarakan di dalam ruang ganti atau dalam diskusi internal tim, bukan di hadapan media.

“Dia bukan pemain termuda, jadi Anda harus menyadari bahwa Anda tidak bisa mengatakan hal-hal seperti itu,” kata Ten Cate.

Ia menambahkan bahwa mengungkapkan kritik secara terbuka berpotensi memicu ketegangan di dalam tim, terutama jika sebagian besar pemain dalam skuad masih berusia muda.

Di sisi lain, Maarten Paes sendiri memang baru menjalani beberapa pertandingan sejak resmi bergabung dengan Ajax pada awal tahun 2026. Hingga saat ini, ia tercatat baru tampil tiga kali bersama klub raksasa Belanda tersebut.

Dalam tiga pertandingan tersebut, Paes telah kebobolan empat gol dan berhasil mencatatkan satu kali clean sheet. Statistik tersebut sebenarnya belum cukup untuk memberikan gambaran utuh mengenai kontribusinya bagi tim.

Meski demikian, performa awal tersebut juga memicu spekulasi mengenai masa depannya di Ajax. Beberapa laporan media Belanda menyebutkan bahwa klub kemungkinan akan mempertimbangkan untuk merekrut kiper baru pada bursa transfer musim panas 2026.

Jika rencana tersebut benar-benar terjadi, persaingan di posisi penjaga gawang Ajax diperkirakan akan semakin ketat. Situasi ini tentu membuat Paes harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang tim yang dijuluki De Godenzonen tersebut.

Bagi Ajax, musim 2025–2026 sendiri menjadi periode yang penuh tantangan. Klub dengan sejarah panjang di sepak bola Eropa itu tengah berupaya kembali ke performa terbaiknya setelah mengalami beberapa musim yang tidak stabil.

Kontroversi yang muncul setelah kekalahan dari Groningen menunjukkan bahwa tekanan di klub sebesar Ajax selalu tinggi, baik bagi pemain lama maupun pemain baru. Setiap komentar, keputusan, maupun performa di lapangan hampir selalu menjadi sorotan publik dan media sepak bola Belanda.

Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa di klub besar dengan tradisi kuat seperti Ajax Amsterdam, tidak hanya kemampuan di lapangan yang diuji, tetapi juga sikap profesional dan cara berkomunikasi dengan publik.