Sebagai gelandang bertahan, Jordi tidak hanya bertugas memutus serangan lawan, tetapi juga menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan. Distribusi bolanya rapi, duel-duel penting berhasil dimenangkan, dan ia mampu menjaga keseimbangan permainan Persija sepanjang pertandingan.

Ini bukan kali pertama Jordi dimainkan di posisi tersebut. Sebelumnya, ia juga sempat menjalankan peran serupa saat menghadapi Madura United. Meski relatif baru dalam peran itu, konsistensi penampilannya menunjukkan bahwa ia memiliki fleksibilitas taktik yang dibutuhkan tim.

Kemampuan adaptasi ini menjadi nilai tambah bagi Persija, terutama dalam situasi kompetisi yang padat dan membutuhkan variasi strategi. Keputusan pelatih menempatkan Jordi sebagai gelandang bertahan terbukti efektif, terutama dalam meredam agresivitas lini serang Bali United yang dikenal cepat dan eksplosif.

Penampilan impresif Jordi Amat membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut. Namun, pemain berusia 30-an itu memilih merendah dan menegaskan bahwa performanya tidak lepas dari kerja sama tim.

Menurutnya, kemenangan Persija adalah hasil kolektif seluruh pemain yang bekerja keras sepanjang pertandingan. Ia menilai kekompakan dan disiplin taktik menjadi faktor utama keberhasilan tim meraih poin penuh di kandang lawan.

Sikap rendah hati ini memperlihatkan karakter kepemimpinan Jordi di dalam skuad. Pengalaman bermain di kompetisi Eropa membuatnya memiliki pemahaman taktik yang matang dan mampu menjadi panutan bagi pemain muda.

Kemenangan atas Bali United menjadi modal penting bagi Persija untuk menatap laga selanjutnya. Tantangan berikutnya sudah menanti, yakni menjamu PSM Makassar di Jakarta International Stadium (JIS), Jumat (20/2) malam.