Infantino menegaskan bahwa aksi meninggalkan lapangan atau ancaman walk out sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dalam sepak bola profesional.

“Meninggalkan lapangan dengan cara seperti itu tidak dapat diterima. Demikian pula, segala bentuk kekerasan tidak dapat ditoleransi dalam olahraga kami. Itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut, Infantino mengingatkan bahwa keputusan wasit di lapangan merupakan bagian dari permainan yang harus dihormati oleh semua pihak, termasuk pemain, ofisial, dan suporter.

“Apa pun keputusan yang dikeluarkan oleh pengadil di lapangan harus dihormati, begitu pula hukum permainan atau laws of the game,” ujarnya.

Menurut Presiden FIFA, sepak bola hanya bisa berjalan dengan baik jika semua pihak yang terlibat menjunjung tinggi prinsip fair play dan menerima keputusan wasit, meskipun keputusan tersebut dianggap merugikan.

“Tim-tim yang terlibat harus berkompetisi secara adil dan sesuai dengan aturan permainan. Jika tidak, maka itu bukanlah sepak bola,” tambah Infantino.

Menariknya, meski Maroko mendapat hadiah penalti di momen krusial, peluang emas tersebut gagal dimanfaatkan. Eksekusi penalti yang dilakukan oleh Brahim Diaz berhasil digagalkan oleh kiper Senegal, Edouard Mendy.

Penyelamatan Mendy menjadi titik balik yang sangat menentukan. Tak lama setelah itu, Senegal justru mencetak gol penentu kemenangan melalui Pape Gueye, yang memastikan trofi Piala Afrika 2025 jatuh ke tangan mereka.

Bagi Senegal, gelar juara ini seharusnya menjadi momen bersejarah dan penuh kebanggaan. Namun, insiden walk out dan kericuhan di tribun membuat kemenangan tersebut sedikit ternodai.